The Good Wifi Comes From The Good Design

Kita tau saat ini Wifi Design merupakan sarana penting untuk kebutuhan perorangan atau perusahaan. Perangkat yang dipakai harian seperti handphone, laptop sudah pasti menggunakan koneksi Wifi. Bahkan perangkat-perangkat yang dahulu menggunakan kabel sekarang sudah lumrah menggunakan koneksi Wifi seperti TV, printer, CCTV, dll. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan mobile user experience dan efisien dalam arti tidak perlu memasang kabel ke masing-masing perangkat melainkan hanya perlu memasang Access Point sebagai koneksi Wifi. 

Namun pernahkan kita mengalami koneksi wifi yang kurang stabil? Sehingga koneksi kita menjadi tidak bagus, putus-putus bahkan tidak terkoneksi sama sekali. Biasanya kita akan cek di indikator wifi perangkat kita seperti handphone atau laptop apakah bar wifinya penuh atau tidak. Jika hanya menyisakan 1 sampai 2 bar sudah pasti koneksi lambat karena koneksi lemah, biasanya kita akan berganti posisi untuk mendapat sinyal wifi yang lebih baik. Atau mungkin sebaliknya, bisa jadi bar wifi kita penuh tetapi koneksi masih saja lambat, hal itu bisa saja terjadi, karena kapasitas access point sudah tidak dapat lagi menampung jumlah perangkat yang terkoneksi. 

Dua hal di atas dapat kita lihat bahwa permasalahannya karena peletakan Access Point yang tidak dapat menjangkau keberadaan user di area tertentu. Dan kedua, jumlah access pointnya kurang sehingga tidak dapat lagi menampung koneksi dari user. 

Untuk masalah pertama, yang umumnya terjadi ketika akan memasang Access Point seringkali kita hanya “menduga-duga” letak peletakan posisinya. Misal di dalam sebuah kantor ada tiga 6 ruangan. Misal di antara 3 ruangan penyekat interiornya adalah kaca. Dan 3 ruangan lainnya batu bata. Lalu di asumsikan memasang hanya memasang 2 Access Point saja yang posisinya di depan 3 ruangan kaca dan 3 ruangan batu bata.

Baca Juga: Teknologi Wireless Roaming Jamin Koneksi Lebih Stabil

Kemudian kita mendapat komplain sinyal lambat dari orang yang berada di ruangan batu bata. Padahal jarak peletakan access point antara ruang interior batu bata dan kaca adalah sama, lalu mengapa ruang kaca tidak ada komplain? Nah, hal tersebut bisa saja terjadi faktanya rambatan signal wifi sangat dipengaruhi oleh apapun objek penghalangnya di lokasi. Maka dari itu kita tidak bisa berasumsi sembarangan mengenai sinyal suatu Wifi. Misalnya kita sudah membeli access point yang mahal tetapi hasilnya tidak maksimal. Hal ini terjadi karena signal wifi bergantung pada “hambatan” apa saja di lokasi dan dimana kita meletakan access pointnya. 

Masalah kedua, sama seperti masalah pertama. Namun ini lebih menekankan pada berapa banyak perangkat yang terkoneksi. Contoh dalam sebuah kantor ada 3 ruangan, ruangan pertama memiliki user sebanyak 25 orang, ruangan kedua 35 orang, ruangan ketiga 50 orang. Lalu kita memasang access Point tiap ruangan satu unit saja per ruangan. Dapat dipastikan kita akan mendapatkan komplain lebih banyak dari ruangan ketiga. Karena perangkat yang terkoneksi sangat banyak. Kapasitas access point tidak lagi dapat menampung sehingga koneksinya jadi tidak maksimal. Perlu di ingat 1 user saat ini bisa berarti 2 atau 3 perangkat. Karena umumnya user minimal memiliki handphone dan laptop. Bahkan lebih bisa memiliki lebih dari satu handphone atau satu laptop. 

Lalu pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengantisipasi terjadinya masalah tersebut? Jawabannya adalah dengan membuat Wifi Design. Ya, mendesign sebuah WLAN(Wireless Local Area Network) yang baik dan benar. Sama seperti mendesign LAN yang selama ini sudah kita ketahui. Mendesign WLAN juga ada beberapa faktor dan tata cara yang perlu kita perhatikan. Di dalam artikel ini kita akan membicarakan dalam mendesign WLAN atau Wifi apa saja requirement yang perlu kita perhatikan, bagaimana memprediksi letaknya, berapa banyak kita butuh access point, bagaimana mem-validasinya, dll.

Requirement yang Dibutuhkan

Dalam mendesign sebuah jaringan WLAN, ada hal atau requirement yang kita butuhkan sebelum kita melakukannya. Hal itu agar design kita buat tepat dan memiliki kualitas yang baik. Jikapun disitu masih ada masalah, kita punya data yang dapat kita trace dan melakukan perbaikan. Setidaknya ada 2 hal yang harus diperhatikan. Yaitu Coverage dan Capacity

Diagram

Description automatically generated

Coverage adalah berhubungan dengan besaran jangkauan. Hal ini agar kita mengetahui sebetulnya Wifi kita digunakan untuk apa? Sebesar besar? Ada 3 hal yang perlu kita perhatikan terkait Coverage 

  • Area Cover : terkait Area. yaitu berapa banyak ruangan yang harus di cover oleh Wifi dan seberapa luasnya (dihitung dalam satuan meter). Semisalnya dalam suatu bangunan memiliki 3 ruangan. Ruang meeting, ruang staff, ruang tunggu. 3 ruangan tersebut memiliki luas masing-masing 20m2. Artinya area yang kita cover ada 3 ruanga tersebut dan luas total 60m2. 
Diagram, engineering drawing

Description automatically generated
  • Optimize 2.4Ghz and 5GHz : Setelah kita mengatahui area apa saja yang di cover. Kita dapat mengetahui “prioritas” ruangan mana yang paling penting. Sehingga kita dapat mengoptimalkan Radio Frequency yang kita gunakan. 2.4GHz mempunya kelebihan jangkauan yang luas tetapi rentan terkena interferenece. 5GHz memiliki jangkauan kecil, tetapi memiliki sinyal yang lebih baik. Ruangan yang prioritas seperti ruang meeting dapat menggunakan 5GHz. 
Shape

Description automatically generated
  • Use VoIP, Video or data kita harus mengatahui traffic di dalam WLAN kita jenis packetnya apa saja. Apakah itu VoIP, Video, atau data.? Karena itu akan menjadi dasar pada saat kita mendesign kita harus meletakkan Access Point kita dimana. Dan tiap jenis traffic memiliki best practice signal yang berbeda-beda. Untuk Data : -75dBm, VoIP : -67dBm.  

Capacity berhubungan dengan berapa kapasitas yang akan kita cover. Hal ini penting agar kita mengatahui berapa beban di dalam WLAN kita. Ada dua hal yang kita perlu catat dalam capacity :

Baca Juga: Apa itu Wi-Fi & Cara Kerjanya

  • Number of end user Wi-Fi devices : artinya berapa banyak device atau perangkat yang digunakan user kita. Dan apa jenisnya. Yang umumnya dipakai user handphone dan laptop. Selain itu juga ada perangkat-perangkat lain yang menggunakan wifi seperti smart TV, CCTV, dan printer. Kita harus catat berapa banyak jumlah perangkat-perangkat tersebut.  
Diagram

Description automatically generated
  • Application run on each device type : menyambung penjelasan pada coverage sebelumnya. Disini lebih spesifik lagi. Yaitu aplikasi apa yang jalan di masing-masing device tersebut. Apa itu HD Video, Email, Web browsing/FTP, Skype, Webex, dan lain sebagainya. Hal ini agar kita tahu beban aplikasi dalam WLAN kita dan kita dapat mendesign sesuai fungsinya. 

Setelah kita mengetahui requirement apa saja yang dibutuhkan, kita dapat memulai membuat Design Planning Wifi kita yang dijelaskan di bagian berikutnya. 

Wifi Planning – Preductive Survey

Ada beberapa metode dalam mendesign atau planning Wifi. Ada Predictive design, Pre-Deployment survey, dan Post-deployment survey. Dalam bahasan kali ini kita menggunakan metode predictive design. 

A screenshot of a video game

Description automatically generated with medium confidence

Predictive Design adalah metode memprediksi sebuah jaringan WLAN dengan mempertimbangkan beberapa aspek. Di antara requirement seperti yang dijelaskan sebelumnya dan situasi lapangan yang akan kita design WLANnya. Dijelaskan seperti berikut : 

  • Layout Area : Disini kita lebih spesifik lagi dari yang dijelaskan sebelumnya. Di tahap ini kita harus memiliki layout area. layout area sebaiknya presisi dengan kondisi asli di lapangan. 
  • Walls and Floors : Setelah kita memiliki layout, selanjutnya kita harus lihat ke lokasi, dinding interior di lokasi menggunakan apa saja. Karena ketebalan dinding sangat mempengaruhi rambatan sinyal Wifi. Jenis-jenis dinding beserta satuan hambatannya  yang umumnya ada sebagai berikut : 
    • Window, Thick : 3.0 dB 
    • Window, Interior : 1.0dB 
    • Wall Dry Hollow : 2.dB 
    • Wall Dry : 3.0dB 
    • Wall Concrete : 12.0 dB 
    • Wall Cinder Block : 5.0 dB 
    • Wall Brick : 10.0 dB 
    • Shelf Warehouse : 27.0 dB 
    • Shelf Retail : 5.0 dB
    • Marbel : 6.0 dB 
    • Elevator Shaft : 30.0 dB 
    • Door Thin : 2.0 dB 
    • Door Hollow Wood : 4.0 dB 
    • Door Interior Office : 4.0 dB 
    • BookShelf : 2.0 dB
  • Antenna : secara fisik ada dua jenis antenna. Yaitu antenna internal dan antenna eksternal. Di antara keduanya memiliki perbedaan jika internal antennanya sudah embedded di dalam Access Point. Ekseternal ada di luar access point dan kita bisa arahkan antenna. 
  • Channel : Penggunaaan channel yang tidak tepat akan mempengaruhi koneksi. Jika channel yang sama berdekatan dapat terjadi Collusion sehingga koneksi wifi akan buruk. 
  • AP Location : ini hal paling penting. Yaitu dimana kita meletakan Access Point kita dan berapa banyak. Karena jika kita salah menempatkan Access Point atau kurang jumlahnya, makan akan percuma WLAN kita tidak akan berjalan maksimal. 

Pada bagian berikutnya akan dijelaskan bagaimana kita mendesign Wifi atau WLAN berdasarkan hal-hal yang sudah di jelaskan sebelumnya. 

Study Case Design – With Predictive Design

Pada bagian ini kita akan mendesign sebuah WLAN. Untuk dapat mendesign Wifi dengan Predictive Design kita harus menggunakan tools. Tools yang kita gunakan adalah Ekahau Pro. Pada tahap pertama kita akan masukan data seperti yang dijelaskan pada sebelumnya. Misalkan kita punya data sebagai berikut : 

  • Layout Office 
    • Panjang : 40 meter 
    • Ruangan : Staff, Receptionist, Conference Room(Ruang meeting) 
Layout Office
  • Number of user :  
    • Staff Area : 38 users 
      • Handphone : 38 Unit 
      • Laptop : 38 Units
    • Receptionis : 10 user 
      • Handphone : 5 units
      • Laptop : 2 units
    • Meeting Room : 30 Users 
      • Handphone : 30 Units 
      • Laptop : 30 units 
  • Application run each device type 
    • HD Video 
    • Email
    • Web Browsing 
    • Webex
  • Walls 
    • Wall Concrete : 12.0 dB 
    • Door Interior Office : 4.0 dB 
    • Wall Cinder Block : 5.0 dB 
  • Access Point :
    • Cisco Meraki MR46
    • SSID : OfficeStaff, OfficeGuest 

Baca Juga: Manfaat Konsultan IT untuk Bisnis Anda

Step by Step Design with Ekahau Pro Planner

Berikut ini step-by-step bagaimana mendesign Wifi dengan predictive design menggunakan Ekahau Pro. 

  • Scalling luas layout 

Kita input layout pada software ekahau. Lalu buat ukuran berapa luas layout tersebut. Software ekahau menghitung simetris, jadi kita cukup masukan panjang atau lebarnya saja.

Diagram

Description automatically generated
  • Area Mapping Area

Setelah itu, kita mapping area berdasarkan peruntukannya dan berapa banyak asumsi user dan devicenya pada ruangan tersebut 

Graphical user interface, application

Description automatically generated
Graphical user interface

Description automatically generated
  • Gambar Walls pada layout

Setelah itu kita gambar walls sesuai keadaan di lokasi. Menggambar dinding bersadarkan warna 

Screen Shot 2021 06 22 at 05.37.07
A picture containing text, electronics, keyboard, white

Description automatically generated
  • Planning with auto-planner 

Pada bagian ini, ada beberapa hal yang kita perlu set, diantaranya:

  • Tipe Access Point yang kita gunakan
  • Transmitter power 
  • Tinggi Access Point (secara vertikal dari lantai ke atas) 
  • Channel Width 
  • Minimum Data Rate 
  • Band Steering 
  • Jumlah SSID

kita dapat menggunakan fitur auto-planner dari Ekahau. Agar mempermudah kita. Atau juga bisa di set manual custom sesuai settingan kita. Untuk case di artikel ini kita menggunakan fitur auto-planner.

Graphical user interface, text, application

Description automatically generated
Graphical user interface

Description automatically generated
  • Result Planning 

Setelah kita masukan semua requirementnya, Ekahau akan generate hasilnya dan akan keluarkan hasil berupa gambar berapa banyak Access Point, letaknya dimana, menggunakan channel berapa. Seperti di gambar di bawah adalah hasilnya : 

  • Jumlah AP : 6 Units 
  • Channel : enable 2.4GHz dan 5GHz . (dapat di lihat di atas AP bagian atas nomer channel 2.4GHz, bawah 5GHz). 
  • Letak AP : Staff 4 Units, Meeting Room 1 Units, Receptionis 1 Units.
Graphical user interface

Description automatically generated
Result Planning Wifi Design

Demikian artikel ini di buat untuk memudahkan kita dalam mendsign Wifi yang tepat agar kualitas Wifi kita baik. Dan hal ini juga jika misal terjadi problem, memudahkan kita untuk troubleshooting karena kita punya data designnya. 

Promo Wifi Assessment

Leave a Comment