13 Contoh Kasus Ransomware yang Menimbulkan Kerugian Besar

Berdasarkan data yang dirilis oleh BSSN tahun 2024, sistem deteksi nasional mencatat sekitar 514.508 kasus ransomware yang menyerang infrastruktur digital di  Indonesia.

Pada 2026, alih-alih berkurang, jumlah serangannya justru meningkat. Targetnya bukan cuma perusahaan besar, melainkan juga menyasar UMKM

Catatan: Anda ingin mendapatkan Gratis Security Assessment eksklusif dari Cisco Umbrella? daftarkan diri anda sekarang! Ingat penawaran ini terbatas hanya untuk 30 pendaftar pertama. Jika anda membutuhkan Solusi IT lainnya, kami memiliki berbagai layanan Jasa IT Terbaik yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan anda.

UMKM menjadi sasaran empuk lantaran tidak memiliki sumber daya keamanan siber yang memadai. Tiga risiko utamanya adalah kehilangan akses data penting, kerugian finansial signifikan, hingga penurunan reputasi dan kepercayaan publik.

Maka dari itu, siapa pun harus lebih waspada karena ransomware tidak pandang bulu. Untuk pembelajaran, artikel ini akan membahas kasus-kasus serangan ransomware supaya Anda lebih aware terhadap bahayanya.

7 Contoh Kasus Ransomware dan Kerugiannya

Berikut contoh kasus beserta kronologi singkat serangan ransomware yang sempat menimpa perusahaan Indonesia maupun dunia:

1. BSI (Indonesia)

kasus ransomware bsi
  • Waktu Kejadian: Mei 2023
  • Ransomware: LockBit 3.0
  • Kerugian: Gangguan layanan berkepanjangan.

Kasus ransomware BSI bermula pada 8 Mei 2023 ketika para nasabah tidak dapat melakukan transaksi.

Awalnya, BSI mengumumkan bahwa gangguan tersebut terkait dengan pemeliharaan sistem. Namun, masalah tak kunjung selesai dalam beberapa hari.

Kemudian pada 10 Mei, BUMN membuat pernyataan bahwa BSI terkena serangan cyber. Hal itu disusul oleh klaim LockBit yang mengaku bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Baca Juga: 8 Tips Perlindungan Ransomware untuk Bisnis Paling Ampuh

LockBit menuntut tebusan Rp200 miliar lebih dengan ancaman membocorkan 1,5 TB data pelanggan. Tawar menawar gagal. BSI akhirnya memilih untuk fokus memulihkan sistem mereka dan menjamin tidak ada data yang bocor.

2. BI (Indonesia)

kasus ransomware bank indonesia
  • Waktu Kejadian: Desember 2021
  • Ransomware: Conti
  • Dampak: Potensi kebocoran data.

Kasus ransomware di Indonesia selanjutnya adalah penyerangan data Bank Indonesia.

Menjelang akhir tahun 2021, BI mengonfirmasi serangan ransomware Conti, namun hanya pada sistem di kantor cabang Bengkulu.

Tidak ada kebocoran data kritikal, tetapi kelompok ransomware Rusia itu kabarnya sudah mengunggah sejumlah data BI ke dark web.

BI pun langsung sigap melakukan pemulihan, audit, dan mitigasi guna mencegah serangan cyber serupa terulang.

3. RS Harapan Kita dan Dharmais (Indonesia)

kasus ransomware wannacry
  • Waktu Kejadian: Mei 2017
  • Ransomware: WannaCry
  • Dampak: Pelayanan pasien terganggu.

Ini adalah kasus ransomware WannaCry terbesar di Indonesia karena dialami oleh dua fasilitas publik besar sekaligus.

Sebagai dampaknya, pelayanan RS Harapan Kita dan Dharmais terganggu, termasuk catatan medis serta tagihan obat pasien.

RS Dharmais bahkan terpaksa membayar tebusan Bitcoin senilai sekitar 200 jutaan untuk memulihkan data yang disandera.

“Ransomware WannaCry menyebar melalui celah keamanan Windows yang belum di-update dengan patch terbaru.”

4. Acer (Taiwan)

kasus ransomware acer
  • Waktu Kejadian: Maret 2021
  • Ransomware: REvil/Sodinokibi
  • Dampak: Potensi kebocoran dokumen perusahaan.

Selanjutnya, perusahaan teknologi raksasa Taiwan, Acer, juga pernah mengalami serangan ransomware pada tahun 2021.

Baca Juga: Ancaman Cyber Security di Era Digital, 6 Jenis & Solusinya

Penyebabnya tidak diketahui pasti, tetapi publik menduga itu karena kerentanan Microsoft Exchange.

Merupakan kelompok peretas REvil, yang menerbitkan hasil serangan mereka terhadap Acer di dark web dan menuntut tebusan USD 50 juta.

Acer kemudian melakukan penyelidikan demi keamanan perusahaan. Akan tetapi, hasilnya tidak mereka umumkan.

5. Quanta Computer (Taiwan) & Apple (Amerika Serikat)

kasus ransomware apple
  • Waktu Kejadian: April 2021
  • Ransomware: REvil/Sodinokibi
  • Dampak: Pencurian data rahasia. 

Perusahaan Taiwan lainnya, Quanta Computer, yang merupakan mitra Apple juga sempat “dikerjai” oleh ransomware REvil.

Kelompok tersebut mencuri cetak biru produk terbaru Apple serta dokumen rahasia lainnya.

Quanta Computer dimintai tebusan, tetapi mereka menolak. REvil lalu mengalihkan targetnya ke Apple dengan mengancam membocorkan datanya.

Sebagai bukti, REvil merilis beberapa cetak biru yang mereka klaim dan ternyata memang akurat.

Apple tidak banyak berkomentar, tetapi mereka meminta bantuan penegak hukum untuk menyelidiki kasus tersebut.

“Tahukah Anda? Negara dengan kasus ransomware tertinggi adalah Amerika Serikat.”

6. Reddit (Amerika Serikat)

kasus ransomware reddit
  • Waktu Kejadian: Februari 2023
  • Ransomware: BlackCat/ALPHV
  • Dampak: Kebocoran data.

Pada 5 Februari 2023, para karyawan Reddit mendapat serangan phishing yang mengarahkan mereka ke situs tiruan portal intranet Reddit.

Dengan kredensial salah satu karyawan, penyerang bisa masuk ke sistem Reddit. Untungnya, infrastruktur utama masih tidak tersentuh.

Tim keamanan Reddit segera melakukan penanganan. Sayangnya, kelompok ransomware BlackCat sudah terlanjur mencuri 80GB data Reddit dan menuntut USD 4,5 juta.

“BlackCat adalah varian paling mendominasi serangan ransomware di seluruh dunia pada kuartal kedua 2023.” ~ Statista

7. Sony (Jepang)

kasus ransomware sony
  • Waktu Kejadian: September 2023
  • Ransomware: RansomedVC
  • Dampak: Kekhawatiran pelanggan tentang perlindungan data mereka.

Kasus ransomware terbaru menimpa Sony. RansomedVC berhasil meretas sistem komputer raksasa hiburan asal Jepang itu dan menjual data yang mereka curi.

Ini bukan satu-satunya kasus ransomware Sony pada tahun 2023. Sebelumnya mereka mengonfirmasi kebocoran data karyawan akibat ulah kelompok ransomware C10p.

RansomedVC adalah kelompok ransomware baru (2023), sedangkan C10p sudah beraksi sejak awal 2019.

8. Otoritas Jasa Keuangan/ OJK (Indonesia)

Kasus ransomware
  • Waktu Kejadian: Oktober 2023
  • Ransomware: Blacksuit
  • Dampak: Gangguan pada layanan dan operasional OJK.

Sistem layanan informasi OJK mengalami gangguan IT pada awal Oktober 2023, yang memicu dugaan kuat serangan ransomware. Insiden ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap serangan siber yang menargetkan lembaga strategis.

Pihak OJK mengonfirmasi adanya gangguan tersebut pada 2-3 Oktober 2023 dan langsung melakukan pemulihan cepat, mengutip Antara News.

Baca Juga: Studi Kasus: Pemulihan Ransomware dengan Layanan IT Support

OJK tidak secara terbuka mengumumkan penyebabnya. Namun, temuan pakar mengonfirmasi bahwa itu adalah serangan dari kelompok ransomware BlackSuit.

Hal ini sempat menyebabkan layanan OJK down sementara waktu. Kabar baiknya, OJK memastikan tidak ada kebocoran data pada insiden tersebut.

9. Pusat Data Nasional Sementara 2 (Indonesia)

Kasus ransomware
  • Waktu Kejadian: Juni 2024
  • Ransomware: Brain Cipher
  • Dampak: Lumpuhnya ratusan layanan publik berbasis digital di seluruh Indonesia.

Salah satu contoh kasus ransomware di Indonesia dengan dampak paling fatal adalah insiden PDNS 2. Dirjen Aptika Kominfo saat itu, Semuel Pangerapan, bahkan sampai mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Kelompok yang bertanggung jawab adalah LockBit 3.0 dengan ransomware jenis Brain Chiper. Malware ini dikenal memiliki enkripsi tingkat tinggi.

Penyusup melakukan peretasan awal pada 17 Juni 2024. Mereka menonaktifkan fitur keamanan Windows Defender agar malware tidak terdeteksi sistem.

Tanggal 20 Juni 2024 dini hari, aktor serangan menjalankan aksinya. Dalam hitungan jam, seluruh sistem penyimpanan data terkunci. Pagi harinya, publik mulai merasakan dampak ketika sistem di bandara internasional lumpuh total.

Empat hari pascakejadian, pemerintah mengumumkan bahwa gangguan benar akibat ransomware. Peretas bahkan meminta uang tebusan sebesar US$8 juta (sekitar Rp131 miliar) untuk mendapatkan decryption key.

Pemerintah menolak membayar, tetapi pada akhirnya kelompok peretas tersebut berpihak kepada masyarakat dan memberikan decryption key secara cuma-cuma. Sayangnya, 98% data PDNS 2 tidak memiliki backup sama sekali sehingga proses pemulihan data butuh waktu berbulan-bulan.

10. Toppan Next Tech (Singapura)

Kasus ransomware
  • Waktu Kejadian: April 2025
  • Ransomware: Tidak diungkapkan
  • Dampak: Kebocoran data nasabah perbankan secara masif.

Selanjutnya ada kasus data bocor ransomware yang mengakibatkan lebih dari 11.000 data nasabah DBS Bank dan BOC Singapura beredar di dark web.

Serangan ini memang bukan langsung ke bank, melainkan supply chain attack melalui vendor pihak ketiga, yakni Toppan Next Tech (TNT).

TNT adalah vendor percetakan dan distribusi massal statement serta dokumen fisik ke nasabah.

Kronologinya, pada 1 April 2025, sistem server TNT mendapat serangan ransomware yang mengenkripsi beberapa server internal mereka. Setelah itu, kebocoran mulai terendus pada 4 April. Pihak DBS dan BOC pun segera mengumumkan insiden tersebut ke publik.

Meskipun sistem internal bank sama sekali tidak tembus, peretas berhasil mengunduh file dokumen nasabah yang sedang diproses di server TNT.

Selain data dari dua bank tadi, pada Juli 2025 Kepolisian Singapura mengumumkan bahwa 1.300 data pelanggar lalu lintas juga ikut bocor. Data tersebut sebelumnya turut diproses TNT untuk surat tilang massal.

Sampai saat ini tidak ada grup ransomware yang mengeklaim bertanggung jawab. Melihat pola serangannya, Ismael Melgar Villalta dari Cyber Defence menduga ini adalah model Ransomware as a Service (RaaS).

Baca Juga: 5 Jenis Ransomware yang Perlu Anda Waspadai

11. Change Healthcare (Amerika Serikat)

Kasus ransomware
  • Waktu Kejadian: Februari 2024
  • Ransomware: BlackCat / ALPHV
  • Dampak: Melumpuhkan infrastruktur kliring medis nasional.

Contoh serangan ransomware selanjutnya adalah yang menimpa Change Healthcare, anak perusahaan UnitedHealth Group (UHG). 

Kasus yang terjadi pada Februari 2024 ini tercatat sebagai serangan ransomware paling destruktif dalam sejarah sistem kesehatan di Amerika Serikat. 

Dampaknya bukan sekedar kerugian finansial, tetapi melumpuhkan infrastruktur kliring medis skala nasional hingga kebocoran data massal.

Change Healthcare bertindak sebagai jantung administrasi kesehatan di AS. Merekalah yang memproses kliring data pembayaran, klaim asuransi medis, hingga verifikasi resep obat. 

Menurut kesaksian resmi CEO UnitedHealth Group, serangan ransomware BlackCat (ALPHV) ini terjadi akibat satu kelalaian fatal pada sistem akses jarak jauh mereka.

Infiltrasi awal terjadi 12 Februari 2024. Peretas masuk ke jaringan internal menggunakan kredensial curian milik staf eksternal. Server pintu masuk ini tidak terlindungi Multi-Factor Authentication (MFA).

Begitu berada di dalam jaringan, peretas menghabiskan waktu selama sembilan hari untuk melakukan pemetaan senyap, mencuri data, dan mencari server backup.

Hingga pada 21 Februari 2024, geng BlackCat meluncurkan enkripsi massal. Sistem Change Healthcare langsung down, memaksa perusahaan mematikan seluruh ekosistem digitalnya demi mencegah penyebaran malware ke server rumah sakit mitra.

Demi memulihkan sistem secepat mungkin, UHG membayar tebusan sebesar US$22 juta (sekitar Rp340 miliar) secara diam-diam dalam bentuk Bitcoin. Total kerugian berkisar antara US$1 miliar – US$1,4 miliar.

12. Synnovis (Inggris)

Kasus ransomware
  • Waktu Kejadian: Juni 2024
  • Ransomware: Qilin
  • Dampak: Memicu status “Insiden Kritis” berskala nasional.

Masih dari industri kesehatan, di Inggris juga sempat terjadi insiden serupa, tetapi aktornya berbeda, yakni geng ransomware Qilin.

Sebagai konteks, Synnovis adalah perusahaan penyedia layanan laboratorium patologi dan diagnostik medis untuk berbagai rumah sakit besar di London.

Lagi-lagi kasus ini memanfaatkan kredensial tanpa MFA untuk masuk ke dalam jaringan. Metodenya diduga melalui phishing atau malware jenis infostealer.

Saat sudah berada di dalam sistem, peretas meluncurkan ransomware yang mengunci hampir seluruh sistem komputer laboratorium Synnovis. Mereka lalu menuntut pembayaran Bitcoin senilai US$50 juta (sekitar Rp780 miliar).

Dampak dari lumpuhnya sistem lab ini, lebih dari 10.000 janji temu pasien dan sekitar 1.700 prosedur operasi bedah tertunda karena dokter kehilangan akses ke hasil laboratorium pasien.

Penanganan pun terlambat. Laporan resmi dari NHS mengonfirmasi adanya satu korban jiwa. Selain itu, hilangnya sistem digital pemetaan golongan darah juga menyebabkan krisis stok darurat darah. 

Pemerintah Inggris dan Synnovis sendiri memang tidak berniat membayar uang tebusan. Namun, hal ini memicu aksi lanjutan dari kelompok peretas dengan menyebarkan 400 GB data privat pasien di dark web dan saluran Telegram.

Baca Juga: 8 Tips Perlindungan Ransomware untuk Bisnis Paling Ampuh

13. MGM Resorts International (Amerika Serikat)

Kasus ransomware
  • Waktu Kejadian: September 2023
  • Ransomware: Scattered Spider
  • Dampak: Lebih dari 36 jam downtime IT.

Kasus ini sangat terkenal karena para peretas murni memanipulasi psikologi manusia lewat telepon (voice phishing).

Korbannya MGM Resorts International, raksasa konglomerat perhotelan dan operator kasino terbesar di Las Vegas, AS. Sementara kelompok penyerangnya terafiliasi BlackCat/ALPHV asal Rusia.

Peretas mencari data karyawan MGM Resorts yang memiliki hak akses administrator ke jaringan IT perusahaan di platform profesional seperti LinkedIn.

Mereka kemudian menelepon tim IT Helpdesk MGM Resorts, menyamar sebagai karyawan tersebut. Peretas berpura-pura kehilangan akses akun, lalu meminta tim IT untuk mereset kredensial akun dan menghilangkan fitur MFA.

Berkat kemampuan komunikasi yang sangat meyakinkan, tim IT helpdesk pun tertipu dan memberikan akses. Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, peretas berhasil masuk untuk merebut hak akses “Super Administrator”.

Setelah berhari-hari pengintaian, pada 11 September 2023, peretas meluncurkan ransomware BlackCat. Mereka berhasil mengunci lebih dari 100 server yang menampung ribuan VM penyokong seluruh ekosistem MGM.

Operasional fisik hotel langsung lumpuh. Pemandangan di koridor Las Vegas hari itu benar-benar kacau. 

Kerugian MGM bukan hanya dari pendapatan langsung. Perusahaan juga harus membayar dana kompensasi kepada para konsumen pascapublikasi data pribadi oleh peretas karena MGM menolak membayar tebusan.

Pelajaran dari contoh kasus malware ini adalah pentingnya edukasi karyawan, penguatan IAM, segmentasi jaringan, dan rencana respons insiden siber yang teruji.

Baca Juga: 7 Solusi Ransomware di Perusahaan, Penanganan Pasca Serangan

Dari Berbagai Kejadian Ransomware, Kita Belajar…

Berbagai kejadian di atas seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan tentang bahaya nyata ransomware

Mulailah evaluasi jaringan Anda, perbaiki kerentanan sistem, gunakan DNS aman, dan sebagainya. Lakukan upaya perlindungan ransomware untuk mencegah, mendeteksi, dan memblokir ancaman. 

Jika tidak mau repot, kami menawarkan Cisco Umbrella sebagai solusi praktis perlindungan menyeluruh terhadap kasus ransomware dan serangan cyber.

Pelajari lebih lengkap tentang produknya dengan mengklik banner di bawah ini.

Isi form berikut! Tim kami segera menghubungi Anda.