Serangan ransomware WannaCry tahun 2017 melumpuhkan 200.000 komputer di 150 negara dan menyebabkan kerugian miliaran dolar. Ironisnya, celah yang dieksploitasi sudah memiliki patch resmi dari Microsoft berbulan-bulan sebelum serangan terjadi.[1]
Catatan: Jika bisnis Anda tidak memungkinkan untuk mempekerjakan Staf IT penuh waktu atau sumber daya Anda terbatas, maka kami dapat membantu Anda dengan layanan Jasa IT Support Edavos. Anda membutuhkan Solusi IT lainnya? Jangan khawatir kami memiliki berbagai layanan Jasa IT Terbaik yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan bisnis Anda.
Baca Juga: Pemulihan Ransomware dengan Layanan IT Support
Insiden ini membuktikan bahwa menunda pembaruan keamanan sangat berisiko bagi kelangsungan bisnis. Oleh karenanya, patch management harus menjadi fondasi pertahanan wajib di setiap organisasi.
Topik yang akan dibahas:
Apa Itu Patch Management?
Patch management adalah prosedur proaktif untuk memindai, mendistribusikan, dan menerapkan pembaruan pada infrastruktur perangkat lunak perusahaan.
Tujuan utamanya mencakup tiga hal, yaitu:
- Menutup kerentanan.
- Memperbaiki bug.
- Menghadirkan peningkatan fitur.
Secara umum, patch management dalam keamanan jaringan mencakup seluruh lapisan infrastruktur IT, mulai sistem operasi, aplikasi pihak ketiga, perangkat jaringan, hingga firmware.
Intinya, makin banyak perangkat yang terhubung di jaringan perusahaan, makin luas attack surface yang harus dijaga.
Apa Saja Jenis Patch?
Patch bukan cuma untuk menangkal virus atau peretasan. Berdasarkan fungsinya, patch management komputer terbagi menjadi tiga jenis:[2]
Security
Security patch wajib menjadi prioritas karena dampaknya langsung terhadap integritas sistem.
Namun, kadang-kadang perilisannya di luar jadwal rutin karena merespons ancaman aktif. Otomatisasi dapat memudahkan Anda mengatasi hal ini.
Bug-Fixing
Ketika ada kesalahan dalam kode yang menyebabkan sistem tidak berjalan normal, pengembang perlu segera mengeluarkan bug-fixing patches.
Jenis patch ini penting karena jika membiarkannya terlalu lama, bug bisa berkembang menjadi celah keamanan baru.
Performance & Feature
Berbeda dari dua jenis sebelumnya, patch ketiga tidak bersifat darurat. Fungsinya meningkatkan kecepatan, stabilitas, atau menambahkan kapabilitas baru pada sistem yang sudah berjalan.
Meski terkesan opsional, Anda tetap harus memasang patch terbaru supaya sistem perusahaan tidak tertinggal jauh dari standar industri.
Patch Management Tools
Sebagai alat bantu pengelolaannya, ada beberapa software yang dapat mengotomatisasi pemindaian, pengujian, dan menerapkan pembaruan pada sistem operasi maupun aplikasi pihak ketiga.
Selain itu, alat ini biasanya juga memiliki fitur pemantauan kepatuhan, pelaporan, serta kemampuan rollback.
Beberapa rekomendasi aplikasi yang umum digunakan di perusahaan antara lain:[3]
- Microsoft Configuration Manager → Sangat dominan di perusahaan yang berbasis Windows.
- ManageEngine Patch Manager Plus → Dipakai di banyak perusahaan karena mendukung >1.100 aplikasi pihak ketiga, punya opsi cloud/on-premises, serta fitur audit/reporting.
- Kaseya VSA → Cocok untuk MSP dan perusahaan dengan kebutuhan RMM skala besar.
- SolarWinds Patch Manager → Populer di kalangan perusahaan dengan infrastruktur Windows yang kompleks.
- Absolute Security Cyber Resilience → Pilih ini jika perusahaan Anda butuh kontrol endpoint multi-OS dengan fokus pada keamanan dan kepatuhan.
- NinjaOne Patch Management → Mulai banyak diadopsi perusahaan karena berbasis cloud, multi-OS, hingga punya visibilitas real-time.
7 Tahapan Proses Patch Management
Pengelolaan patch tidak boleh acak. Ada alur kerja yang dikenal sebagai patch management life cycle. Berikut tahapannya:[4]
1. Inventaris Aset
Langkah pertama adalah mencatat semua perangkat keras, sistem operasi, aplikasi, firmware, dan layanan cloud yang ada di lingkungan perusahaan.
Akurasi pencatatan memastikan tidak ada perangkat yang luput dari pengawasan atau tertinggal update.
2. Identifikasi Patch
Selanjutnya, tim IT akan memantau buletin resmi vendor, database CVE (Common Vulnerabilities and Exposures), dan intelijen ancaman untuk mengetahui patch apa saja yang tersedia dan relevan.
3. Prioritization
Akibat jumlah pembaruan yang terkadang membludak, sistem perlu memilah urgensi mitigasi berdasarkan kerentanan kritis dengan exploit aktif.
Penyusunan jadwal instalasi juga memperhitungkan kemungkinan terhentinya server produksi pada saat pemasangan patch.
4. Testing
Langkah berikutnya adalah uji kompatibilitas dan dampak sebelum deployment.
Patch diuji di lingkungan terisolasi guna memastikan itu tidak mengganggu fungsi sistem yang sudah berjalan. Tahap ini sering terlewatkan, yang mana menjadi penyebab utama downtime pasca-patching.
5. Deployment
Setelah terbukti aman, penerapan patch dijadwalkan sesuai urgensi serta ketersediaan sistem. Tim IT juga merancang rollback plan dan melakukan komunikasi intens dengan divisi-divisi terkait.
6. Verifikasi & Remediasi
Setelah penerapan, tim memeriksa apakah patch benar-benar berhasil terpasang. Jika ada kegagalan, maka harus ada remediasi atau penerapan kontrol kompensasi sementara.
7. Pelaporan & Dokumentasi
Terakhir, tutup siklus dengan dokumentasi lengkap, mencakup laporan untuk keperluan audit, kepatuhan regulasi, hingga perbaikan proses ke depan.
Laporan komprehensif ini berguna sebagai referensi dalam meracik strategi keamanan yang jauh lebih matang.
Baca Juga: 8 Checklist IT Audit Infrastruktur Jaringan Perusahaan
Mengapa Patch Management System Penting bagi Perusahaan?
Mengutip IBM, di bawah ini adalah benefit nyata yang perusahaan Anda akan dapatkan dengan menerapkan manajemen patch secara konsisten:[5]
- Keamanan: Patch menutup celah yang bisa dieksploitasi peretas. Kasus WannaCry 2017 adalah bukti konkret betapa mahalnya harga kelalaian ini.
- Fitur baru: Sejumlah patch menambah kapabilitas sistem yang langsung berdampak pada produktivitas tim.
- Perbaikan bug: Masalah kecil yang mengganggu kinerja harian dapat diatasi sebelum berkembang menjadi insiden besar.
- Minim downtime: Proses yang terstruktur membantu memprioritaskan pembaruan paling kritis tanpa mengacaukan ritme kerja.
- Kepatuhan regulasi: Mendukung pemenuhan standar GDPR, HIPAA, PCI-DSS, dan regulasi sejenis yang mensyaratkan keamanan sistem.
Satya Nadella via Microsoft Blog (2024), menegaskan hal ini:
“Jika ada trade-off antara keamanan dan prioritas lain… jawabannya jelas: pilih keamanan. Tujuannya melindungi ekosistem digital pelanggan dan membangun dunia digital yang lebih aman.”[6]
Praktik dan Solusi Terbaik untuk Perusahaan Anda
Mengelola ratusan hingga ribuan endpoint secara manual jelas menyulitkan tim IT internal perusahaan. Apalagi, setiap vendor tidak merilis patch dengan jadwal yang sama. Di sinilah Anda membutuhkan peran mitra IT eksternal.
Baca Juga: Gaji IT Support Internal Mahal, Saatnya Pindah ke Outsource?
Layanan IT support Edavos dapat membantu Anda menyediakan tim yang selalu tersedia untuk membantu patch management, memonitor 24/7, serta berpengalaman memahami prioritas keamanan bisnis.
Silakan konsultasikan kebutuhan perusahaan Anda dengan tim ahli Edavos agar mendapatkan perlindungan maksimal.